spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hetifah dan Pelajaran Politik dari Sofyan Hasdam

SAYA sudah cukup lama mengenal Hetifah Sjaifudian. Namun saya akui, komunikasi selama ini lebih banyak berlangsung lewat pesan WhatsApp. Pernah sekali saya singgah ke ruang kerjanya di DPR RI saat berada di Jakarta. Tetapi waktunya singkat dan tidak banyak obrolan.

Baru, Kamis (18/12), ketika sejak pagi hingga sore saya mengikuti rangkaian kegiatannya di Bontang, saya mulai melihat sosok Hetifah lebih dekat.

Saya menangkap satu kesan: konsisten. Hetifah adalah tipe politisi yang menghargai orang, situasi, dan proses. Sikap itu tidak ditunjukkan lewat gestur besar atau kalimat panjang, melainkan melalui hal-hal kecil.

Ia tampak serius memastikan setiap agenda berjalan tepat waktu. Beberapa kali ia terlihat gelisah ketika belum ada kabar kesiapan kegiatan di SMKN 1 Bontang. “Jangan sampai mereka menunggu lama,” pesannya kepada staf. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele. Namun bagi saya, justru di situlah memperlihatkan karakternya. Forum siswa ia perlakukan sebagai ruang penting, bukan titik agenda yang sekadar terlaksana.

Saya bersama Hetifah Sjaifudian di sela kegiatan. Foto: Istimewa

Saya juga mengalami satu momen yang cukup personal. Saya diundang makan siang di Bontang Nusantara. Saat tiba di sana, saya melihat satu kursi kosong. Staf kemudian menyampaikan bahwa kursi itu memang disiapkan untuk saya. Setelah mengambil makanan prasmanan, saya dipersilakan duduk tepat di sebelahnya.

Baca Juga:   APBN 2026: Kaltim Dikebiri, Pusat Membengkak

Saya hadir sebagai Pemimpin Redaksi Mediakaltim.com sekaligus pengelola sejumlah media di bawah jaringan Media Kaltim Network. Sebagai wartawan yang cukup lama berada di lapangan, saya terbiasa berinteraksi dengan banyak pejabat. Namun harus saya akui, tidak banyak yang menempatkan wartawan sebagai mitra dialog tanpa jarak, terutama dalam suasana resmi seperti itu.

Padahal di meja itu hadir Prof. Dr. Ir. Najib Rohadi, M.Eng., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Yhenda Permana selaku Ketua Pembina Yayasan Bessai Berinta yang menaungi STITEK Bontang, serta jajaran pengelola STITEK. Obrolan berlangsung santai, tidak kaku. Namun fokus Hetifah tetap terasa. Sesekali matanya mencari staf, memastikan agenda berikutnya telah siap.

Kesan itu sebenarnya sudah lebih dulu saya tangkap saat Hetifah berbicara di hadapan peserta Sosialisasi dan Diseminasi Kebijakan Perubahan STITEK Bontang menuju universitas. Di forum terbuka itu, ia bercerita tentang Bontang, tentang Wali Kota Neni Moerniaeni, dan tentang Anggota DPD RI Sofyan Hasdam—suami Neni. Cerita tersebut disampaikan tanpa nada politik. Lebih sebagai pengakuan personal.

Baca Juga:   Saat Affan Tumbang, Baracuda Melaju, dan Spekulasi Kaburkan Demokrasi
Hetifah Sjaifudian berdiskusi di Bontang Nusantara. Foto: Istimewa
Foto bersama usai agenda kegiatan di Bontang Nusantara.
Foto: Istimewa

Ia menyebut secara terbuka bahwa pada Pemilu 2014, yang terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kaltim adalah Neni Moerniaeni. Hetifah kemudian menggantikan setelah Neni maju dan terpilih sebagai Wali Kota Bontang. Ia juga menyampaikan, tanpa keterbukaan hati Sofyan Hasdam dan Neni Moerniaeni, ia mungkin tidak akan berada di posisi seperti sekarang.

Nada bicaranya berubah ketika menyebut Sofyan Hasdam. Lebih pelan dan reflektif. Ia menyebut Sofyan sebagai mentor politik. Sosok yang konsisten memperjuangkan sesuatu hingga tuntas. Karakter itu, kata Hetifah, sudah terlihat sejak lama: fokus, disiplin, dan tidak setengah-setengah.

Ia juga menggambarkan Sofyan Hasdam sebagai figur dengan latar yang lengkap. Seorang dokter, akademisi, advokat, birokrat, dan politisi. Hetifah menyebut satu sisi yang jarang dibicarakan, yakni kemampuan Sofyan menyampaikan gagasan secara komunikatif, termasuk lewat tulisan dan buku-bukunya yang ia jadikan rujukan.

Bagian ini menarik karena Hetifah tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang berdiri sendiri. Ia secara terbuka mengakui proses, peran mentor, dan orang-orang yang membentuk perjalanannya.

Baca Juga:   Pahitnya Menang Lelang Negara (7): Gugatan Ditolak PN Balikpapan, Tanpa Itikad Baik, Eksekusi Paksa Jalan Terakhir
Hetifah Sjaifudian menyerahkan cinderamata kepada Sofyan Hasdam di sela kegiatan sosialisasi di Bontang. Foto: Istimewa

Menjelang akhir, Hetifah menutup dengan sebuah pantun sebagai ungkapan terima kasih kepada Sofyan Hasdam dan Neni Moerniaeni atas sambutan di Kota Bontang. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.

Sehari mengikuti agenda Hetifah membuat saya melihat satu hal yang konsisten. Ia tidak membangun jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Relasi dijaga, mentor dihormati, wartawan diperlakukan setara, dan forum pelajar serta akademik ia hadiri dengan keseriusan yang sama.

Saya mungkin belum sepenuhnya mengenal Hetifah. Namun dari apa yang saya lihat, ia menunjukkan kesungguhan yang tenang dan konsisten.

Pendekatan itu juga tidak lepas dari latar belakang pendidikannya. Hetifah menempuh pendidikan Sarjana Teknik Planologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), melanjutkan Master in Public Policy di National University of Singapore (NUS), dan meraih gelar doktor dari Flinders University, Australia. Saat ini ia menjabat Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset, dan inovasi.

Namun di luar semua jabatan itu, yang paling membekas bagi saya justru caranya hadir. Tepat waktu, menghargai orang, dan sungguh-sungguh pada setiap forum yang ia datangi.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

BERITA POPULER