Sejak beberapa hari terakhir, saya rutin menerima laporan dari lapangan. Adhi Abdian, Kepala Kantor Media Kaltim Samarinda, bersama Dimas, wartawan Mediakaltim.com, terus mengirimkan perkembangan situasi Haul Guru Sekumpul hingga Minggu (28/12).
Keduanya memang lebih dulu tiba di Martapura melalui jalur darat. Adhi berangkat menggunakan mobil bersama keluarga, sementara Dimas memilih bergabung dalam rombongan jemaah bermotor.
Saya sendiri baru bisa menyusul pada Minggu (28/12). Selain agenda kerja yang masih padat, hari itu saya harus lebih dulu mengantar anak ke bandara untuk kembali ke pondok setelah libur semester.
Karena alasan itu pula, saya memilih menempuh perjalanan udara dari Samarinda. Kebetulan, jadwal penerbangan ke Banjarbaru, waktunya hampir bersamaan.
Pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto pukul 11.25 WITA dan mendarat di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru sekitar pukul 12.35 WITA. Waktu tempuh di udara hanya sekitar satu jam. Jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan darat Bontang–Samarinda yang bisa memakan waktu hingga 2,5 jam.
Datang belakangan bukan berarti datang tanpa niat. Banyak jemaah berada di posisi yang sama. Di perjalanan, saya menjumpai beberapa jemaah yang juga baru berangkat dari Samarinda pada hari yang sama. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang berombongan.
Tidak ada rasa tertinggal. Seolah semua sudah paham, haul bukan soal siapa yang datang paling awal, tetapi siapa yang tetap menyempatkan diri hadir.
Saya sempat berbincang dengan seorang warga Sempaja yang datang bersama ibunya. Saya bertanya apakah ia tidak khawatir berangkat di hari yang sudah mendekati puncak haul, terutama soal tempat beristirahat.
Ia tersenyum sebelum menjawab, “Tidak perlu khawatir. Apalagi soal tidur atau makan, biasanya sudah ada saja yang menawarkan kalau sudah sampai di sana,” ucapnya.
Jawaban itu bukan tanpa alasan. Saat Haul Guru Sekumpul, gotong royong memang menjadi pemandangan yang lazim. Relawan dari berbagai daerah bergerak membantu jemaah, menyediakan makanan, tempat beristirahat, hingga bantuan lain. Kebiasaan baik ini teruji dan berulang dari tahun ke tahun.
Saya sendiri menyaksikannya sepanjang perjalanan dari Bandara menuju Banjarbaru.
Di sela perjalanan, pertanyaan lain juga kerap muncul. Termasuk dari pembaca di kolom komentar Instagram @mediakaltim. Mengapa Guru Sekumpul begitu dicintai? Mengapa jutaan orang terus datang, bahkan lebih dari dua dekade setelah beliau wafat?
Yang dicintai jutaan orang itu adalah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama kharismatik yang dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul. Sekumpul sendiri adalah kawasan di Martapura yang menjadi pusat dakwah dan pengajian beliau semasa hidup. Kini, kawasan itu menjelma menjadi ruang spiritual bersama, tempat orang-orang datang membawa doa, rindu, dan niat yang sama.
Cinta umat kepada beliau tidak lahir dari simbol atau gelar, melainkan dari keteladanan. Ilmu yang diajarkan tidak berhenti di majelis, tetapi terlihat dalam sikap hidup sehari-hari. Sederhana, lembut, dan konsisten.

Cara beliau berdakwah juga menjadi alasan kuat. Tidak menghakimi, tidak meninggikan suara, dan tidak memaksa. Banyak orang datang dengan persoalan hidup masing-masing.
Mereka tidak selalu pulang dengan jawaban, tetapi sering pulang dengan hati yang lebih tenang. Bagi banyak jemaah, itu sudah cukup.
Cinta umat kepada Guru Sekumpul juga tidak bertumpu pada garis keturunan. Dalam tradisi Islam, kemuliaan tidak diwariskan begitu saja, tetapi dibangun melalui amal, ilmu, dan akhlak. Karena itu, wajar jika yang dicintai umat adalah sosok yang paling banyak memberi manfaat, meski beliau memiliki keluarga dan keturunan.
Meski wafat pada 2005, jejak beliau tidak berhenti. Pengajian, amalan, dan nilai-nilai yang ditanamkan terus hidup dan dipraktikkan. Haul bukan sekadar mengenang wafatnya seorang ulama, tetapi mengingat kembali warisan akhlak dan ilmu yang masih relevan hingga hari ini.
Bagi sebagian jemaah, Guru Sekumpul bahkan dipandang sebagai orang tua rohani, tempat bersandar batin dan menata niat.
Saya sendiri memilih menghubungi saudara di Banjarbaru untuk tempat menginap. Bukan karena takut tidak kebagian, tetapi agar perjalanan tetap terukur.

Setiap orang punya caranya sendiri dalam menyiapkan diri. Ada yang sepenuhnya menyerahkan pada keadaan, ada pula yang mengatur sebisanya. Keduanya sama-sama sah.
Di Sekumpul, tidak ada yang bertanya Anda datang lewat mana, berangkat kapan, atau menginap di mana. Semua itu bukan ukuran. Yang lebih penting adalah niat untuk hadir dan mengikuti rangkaian doa bersama dengan tertib.
Saya bersyukur tahun ini bisa ikut dan menyaksikannya langsung. Saya memang tidak sampai ke titik pusat Sekumpul karena kondisi sudah sangat padat. Saya bergabung bersama jemaah di Lapangan Murjani, depan Balai Kota Banjarbaru.
Di lokasi ini, suasana haul tetap terasa. Puluhan ribu jemaah mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari salat Magrib berjamaah, bershalawat, hingga salat Isya. Seluruh rangkaian dapat disaksikan melalui layar LED besar yang disiapkan panitia.
Meski berada di titik yang berbeda, niat para jemaah tetap sama. Dan di Sekumpul, itu sudah lebih dari cukup.
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.





